Kurkes: Karena Menjadi Dokter Lebih Dari “Sekedar” Mengobati

Dokter merupakan profesi yang mulia. Profesi yang membantu orang lain untuk sembuh terhadap suatu penyakit tertentu atau membuat orang lain dapat menjaga kesehatannya dengan baik. Dokter pun merupakan profesi yang mempunyai wewenang tertinggi dalam dunia kesehatan. Bahkan, segala hal tentang praktik kedokteran diatur di dalam UU Republik Indonesia No 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa seseorang yang melakukan pengobatan ke dokter dijamin oleh pemerintah. Ahli pengobatan lain misalnya dukun, hipnotis, pengobatan alternatif, dan masih banyak lainnya, tidak mempunyai wewenang setinggi profesi dokter.

Berbicara tentang profesi seorang dokter, secara garis besar tidak terlepas dari ketepatannya dalam mendiagnosis suatu penyakit dan memberikan obat, kepiawaiannya dalam melakukan operasi, baik operasi kecil maupun operasi besar, serta kemampuan dirinya dalam mempengaruhi orang lain untuk melakukan hidup sehat. Untuk melakukan itu semua, maka seorang dokter wajib dibekali ilmu kedokteran yang matang dan juga mumpuni. Bagaimana tidak, jika ada beberapa ilmu yang tidak dokter kuasai atau beberapa ilmu yang dokter pelajari salah selama masa bangku perkuliahannya, maka apa yang terjadi terhadap pasien yang dia obati? Mungkin teman–teman bisa menjawabnya sendiri. Oleh karena itu, sudah seharusnya mahasiswa–mahasiswa kedokteran di Indonesia dapat mempelajari ilmu kedokteran dengan baik ketika di perkuliahannya. Lebih–lebih lagi, “kutukan” seorang mahasiswa ketika sudah menjadi dokter adalah harus menimba ilmu dari sumber–sumber ilmu yang lain seperti seminar atau dari jurnal–jurnal kesehatan internasional karena semakin cepatnya perkembangan ilmu kedokteran itu sendiri. Sekali lagi ditegaskan inilah profesi dokter yang mulia, profesi yang harus memakan sebagian waktu kehidupannya untuk terus belajar dan belajar, atau dikenal dengan istilah long life learning.

Akan tetapi, dalam perjalanannya, ternyata seorang dokter bukan hanya harus dibekali oleh ilmu-ilmu kedokteran yang mumpuni, melainkan seorang dokter harus mempunyai sifat-sifat luhur atau softskill dari profesi dokter itu sendiri. Semua itu pun terangkum dalam poin–poin yang terdapat pada Five Star Doctor. Negara Indonesia sendiri menambahkan dua poin lagi sehingga di Indonesia dikenal sebagai Seven Star Doctor. Poin–poin pada Seven Star Doctor yaitu ada care provider, decision maker, communicator, community leader, manager, researcher, serta iman dan taqwa. Lalu bagaimana jika seorang dokter tidak mempunyai salah satunya atau beberapa dari poin–poin tersebut? Misal seorang dokter yang tidak mempunyai kemampuan komunikasi yang baik tentu saja dia kesulitan dalam memberikan informed consent kepada pasien. Contoh lainnya apabila seorang dokter tidak mempunyai jiwa kepemimpinan bagaimana dia bisa memimpin suatu desa untuk melakukan kegiatan hidup sehat, dan masih banyak contoh–contoh lainnya. Oleh karena itu, tidak bisa dipungkiri bahwa semua poin–poin yang terdapat pada Seven Star Doctor penting sekali dalam setiap tindakan yang dokter lakukan terhadap pekerjaannya.

Sekarang kita bertanya, apakah sudah cukup dengan ilmu kedokteran dan softskill? Ternyata tidak teman-teman. Seorang dokter harus mempunyai keterampilan yang lain untuk menunjang pekerjaannya. Misal salah satunya adalah ilmu komputer. Bayangkan jika seorang dokter tidak mengerti tentang ilmu komputer padahal sekarang rekap medis pasien sudah menggunakan komputer, tentu kerepotan bukan. Ternyata tidak bisa dipungkiri lagi seorang dokter butuh beberapa keterampilan di luar keterampilan dalam bidang kedokteran itu sendiri bukan.

Oke, sekarang kita berkaca pada beberapa intisari yang bisa kita ambil dari semua penjelasan di atas.  Apa saja? Yaitu seorang dokter harus mempunyai ilmu kedokteran, soft skill, dan keterampilan di luar bidang kedokteran. Sekarang kita bertanya? Apakah kita, seorang mahasiswa kedokteran yang nantinya akan menjadi dokter, mempelajari itu semua selama bangku perkuliahan? Mungkin ada yang bilang iya dan mungkin ada juga yang bilang tidak. Seseorang yang berkata iya mungkin dulunya seorang aktivis dan memang pada dasarnya dia aktif kemana–mana untuk menimba ilmu sebanyak–banyaknya. Sedangkan yang bilang tidak, mungkin dia ketika menjadi mahasiswa hanya mengikuti proses pembelajaran yang berjalan di fakultas tersebut. Memang proses pembelajaran di fakultas kedokteran itu seperti apa? Faktanya, proses pembelajaran pada seluruh fakultas kedokteran di Indonesia, terangkum dalam kurikulum yang di dalamnya hanya memuat ilmu–ilmu atau keterampilan kedokteran saja. Kurikulum tersebut tidak memuat softskill dan keterampilan bidang lain yang dibutuhkan selain bidang kedokteran. Untuk mahasiswa kedokteran itu sendiri softskill dan keterampilan lain diperoleh tidak lain dan tidak bukan atas dasar inisiatif dari mahasiswa itu sendiri. Memang pada dasarnya inisiatif itu harus, akan tetapi, apakah semua mahasiswa kedokteran semuanya seperti itu? Mungkin kita bisa bilang, “yaudah lah ya, kan bisa kembali pada diri masing–masing, gue mau inisiatif atau enggak, ya itu urusan gue.” Ternyata dalam profesi dokter tidak bisa segampang itu teman–teman. Hal ini dikarenakan ketika kita lulus, kita membawa nama dokter Indonesia. Bayangkan apabila ada beberapa dokter yang melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, maka itu merupakan aib bagi seluruh dokter indonesia juga bukan. Bayangkan juga nama dokter suatu saat nanti tercoreng dan masyarakat beralih ke pengobatan alternatif, dampaknya secara langsung berimbas ke kita juga bukan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kita membutuhkan suatu poin–poin tertulis lainnya selain kurikulum pembelajaran dan tentu saja yang berjenjang dari tiap semester. Kurikulum yang memuat di dalamnya tidak hanya ilmu–ilmu kedokteran, tetapi juga soft skill dan keterampilan lain yang dibutuhkan oleh seorang dokter. Oleh karena itu, Senat Mahasiswa FK Unpad, telah membuat suatu kurikulum yang dinamakan kurikulum kemahasiswaan (kurkes). Kurikulum ini memuat poin–poin dari soft skill dan keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang dokter. Poin–poin tersebut lalu diubah menjadi indikator–indikator keberhasilan atau poin–poin yang lebih spesifik. Selanjutnya, indikator keberhasilan tersebut dibentuk dalam suatu kegiatan yang bisa diikuti oleh mahasiswa, baik kegiatan yang telah ada di FK Unpad maupun kegiatan baru yang belum ada di FK Unpad itu sendiri. Harapan besar pada kurikulum kemahasiswaan ini adalah disetujui oleh dekan fakultas untuk menjadi kurikulum penunjang pada kurikulum pembelajaran yang selama ini telah kita jalankan. Tentu saja kurikulum penunjang ini jika disetujui akan ada sistem penilaiannya, yaitu berupa SKP (Satuan Kredit Partisipasi). Penilaian yang dilihat bukan karena performanya tetapi dari kehadirannya pada kegiatan-kegiatan yang terdapat pada indikator-indikator kurikulum kemahasiswaan. Ibaratnya seperti kita udah jadi dokter yang harus mengikuti minimal beberapa seminar dalam satu tahun, namun konteks yang membedakannya adalah kita sebagai seorang mahasiswa. Tentu seru bukan? Proses dalam kita mendapatkan softskill dan keterampilan lain mendapatkan apresiasi dari fakultas sehingga kita, mahasiswa kedokteran, makin semangat untuk terus belajar menjadi dokter yang mempunyai kepribadian baik dan modern.

Namun, kurikulum kemahasiswaan ini dapat berjalan apabila ada dukungan dari semua pihak, baik dari pihak yang terkait maupun yang nonterkait. Tentu saja ketika kurikulum kemahasisaan ini berjalan, diharapkan dapat membuat suasana kampus FK Unpad hidup dalam hal kemahasiswaannya. Selain itu juga, jika Allah swt mengizinkan, dengan berjalannya kurikulum kemahasiswaan ini dapat membantu Fakultas Kedokteran Unpad dalam mencetak generasi–generasi dokter yang mampu memajukan Bangsa Indonesia dalam hal bidang kesehatannya. Semoga kita semua termasuk mahasiswa yang nantinya berada pada jajaran dokter–dokter pengubah sejarah bangsa untuk kesehatan rakyat Indonesia yang lebih baik. Aamiin.

Dimas Febrian P

Ketua Bidang Pengembangan Potensi Mahasiswa

Senat Mahasiswa FK Unpad 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s