Kastrat di Bumi Khatulistiwa

Saat itu, Jumat malam. Berbagai sambutan diberikan kepada delegasi. Mulai dari sambutan Ketua Acara, Ketua IMKU, Koordinator Kastrat ISMKI Wilayah II, PD III FK Untan, tim paduan suara FK Untan dan tarian tradisional suku Dayak untuk menyambut kami, para delegasi, di “Bumi Khatulistiwa” yang beberapa hari ke depan akan kami singgahi. Ya, School of Kastrat 2012 di Pontianak.

Ada sejuta kisah dari para delegasi tentang tanah ini karena mungkin ini bisa jadi kali pertama kami menginjakkan kaki di Kalimantan Barat. Panas, tak perlu ditanya. Tetapi, panasnya udara Pontianak tidak menyurutkan semangat kami untuk belajar banyak di sana. Dan tidak hanya belajar, kami pun merajut persahabatan di sana.

Esok harinya (Sabtu) kami diberikan berbagai materi beserta simulasinya. Sebanyak 33 peserta siap menelan dan menikmati materi yang telah disiapkan untuk nantinya diturunkan kepada teman-teman lain dalam satu institusi. Materi yang banyak karena beberapa memang tak memakan banyak waktu. Materi pertama adalah Quo Vadis yang disampaikan oleh Trahmono sebagai Koord Kastrat Wilayah II. Ketua Acara pun (Deril Rengga Permana) mengisi materi tentang Kastratisasi. Ada juga, materi tentang Kastrat dan bagaimana membuat Kajian yang baik yang dibawakan oleh Guntur Bayu Bima (FK Unjani).

Di sela-sela materi, kami memilih ketua SOK Second Generation hingga akhirnya Zul Achmad (FK UMJ) terpilih sebagai ketua. Siangnya, ada seminar tentang Sistem Kesehatan Nasional dengan pemateri Ketua Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, drg. Multi J. Bhatarendro, MPPM. Dilanjutkan materi Public Speaking oleh Bang Finza dengan simulasi orasi oleh Andika, Afifan dan Icha yang mengundang gelak tawa.

Selepas Ashar, materi sore dibawakan oleh Diaz Novera (FK UI) atau akrab disapa Bang Diaz. Tentang Advokasi dan Negosiasi dengan awalan yang cukup unik. Materi pun tidak membosankan karena pembawaan materinya menggunakan analogi mengadvokasi wanita. Untuk simulasinya, dibagi menjadi empat kelompok yang terdiri dari Suku Timur (pemilik domba), Barat, Utara, Selatan sebagai pihak yang akan memperebutkan domba dengan advokasi dan negosiasi yang baik. Hasilnya, Suku Barat yang diketuai oleh Indra Fahlevi menjadi pemenang dengan mendapatkan domba dengan harga yang terbilang rendah.

Materi terakhir, dibawakan oleh Mega Febrianora (FK Unpad) tentang Rancangan Pengembangan Organisasi (RPO). Walaupun energi dan pikiran sudah terkuras habis di pagi sampai sore, ternyata semangat belajar belum usai. Hal ini terbukti saat simulasi pembuatan RPO berjalan dengan lancar dan kelompok 2 yang diketuai oleh Gisna (UKRIDA) selesai lebih dulu dan kebagian untuk presentasi.

Begitulah lelahnya hari pertama School of Kastrat yang ditutup dengan jalan-jalan ke Sungai Kapuas. Suasana malam semakin terasa dengan lampu-lampu rumah di pinggiran sungai. Kami dibagi menjadi dua kloter untuk menaiki perahu mengitari luas dan panjangnya sungai pembelah kota itu. Tidak hanya itu, kami pun disuguhi makanan khas Kalimantan, seperti kue bingke, cai kue, dan pisang srikaya di kafe yang letaknya persis di tepi Sungai Kapuas dengan suasana malam plus lilin di setiap meja dan hamparan bintang di atas langit. Keren banget lah!

Hari kedua, tak kalah seru. Walaupun hanya satu materi tentang Manajemen Aksi, simulasinya menguras tenaga dan mengundang kegembiraan. Simulasi aksi dilakukan di pelataran lobi FK Untan yang sudah dijaga oleh pasukan polisi (panitia SOK) berhelm motor. Agak konyol memang, lucu lebih tepatnya. Tapi, dalam pelaksanaanya, aksi ini begitu luar biasa layaknya aksi sungguhan di Gedung Hijau. Bertemakan Penolakan RUU Legalisasi Ganja, aksi ini bisa dibilang sedikit heboh antara massa dan petugas dengan adanya adegan gigitan dan robeknya almamater salah satu massa aksi (peserta SOK).  Dan dua negosiator pun, akhirnya berhasil membuat ‘pejabat teras’ di sana menunda sidang pengesahan RUU tersebut. Dua jempol untuk kalian semua.

Sebelum berakhir, kami berembug untuk membicarakan Plan of Action yang diberikan oleh panitia untuk dapat menyokong kastrat-kastrat baru di ISMKI wilayah II. Begitulah hingga akhirnya penutupan School of Kastrat dan kembalinya para delegasi ke tempat masing-masing untuk esoknya kembali menuntut ilmu di bangku kuliah. Sebelum ke bandara, kami diajak ke tempat pembelian oleh-oleh bernama PSP untuk membeli sedikit buah tangan untuk kerabat tersayang. (editor/it)

Image

-Farhatul Inayah Adiputri (Kastil Sema FKUP 2012)-

2 thoughts on “Kastrat di Bumi Khatulistiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s