Angka Kebutaan di Indonesia Tertinggi Kedua Dunia Setelah Ethiopia

Artikel ini saya post di blog senat karena urgensinya yang tinggi, mengingat kesehatan mata adalah salah satu aspek yang seharusnya mendapat sorotan yang seksama oleh mahasiswa kedokteran. Yuk, dibaca!

[Unpad.ac.id, 9/03/2012] Dalam 20 tahun ke depan, diperkirakan jumlah kebutaan di dunia akan meningkat dua kali lipat.  Hal inilah yang menjadi latar belakang munculnya Vision 2020 yang digagas World Health Organization dan Agency for Prevention of Blindness (IAPB) pada tahun 1999. Pada tahun 2020, diharapkan angka kebutaan yang pada awalnya diperkirakan mencapai 75 juta orang, akan berkurang menjadi 25 juta orang.

Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia (kanan) memberikan kenang-kenangan kepada Prof. Dr. Gantira Natadisastra, dr. Sp.M (K) (Foto: Tedi Yusup)*

Di Indonesia, Vision 2020 dicanangkan pada tahun 2000. Saat itu, angka kebutaan di Indonesia sangat tinggi, bahkan yang tertinggi di Asia, yakni 1,5% dari jumlah penduduk. Penyebab utamanya adalah katarak, yakni sebanyak 2 juta orang dan setiap tahun bertambah sekira 240 ribu penderita katarak baru.

“Laporan terbaru dari Australia mengenai evaluasi pertengahan Vision 2020 pada bulan Juni 2010, menyatakan bahwa angka kebutaan di Indonesia termasuk paling tinggi di dunia, nomor dua setelah Ethiopia. Hal ini sangat menyedihkan, karena setelah 10 tahun program Vision 2020, peringkat angka kebutaan di Indonesia bukannya membaik bahkan semakin memburuk,” tutur guru besar Fakultas Kedokteran (FK) Unpad, Prof. Dr. Gantira Natadisastra, dr. Sp.M (K) saat memberikan kuliah kehormatan dengan judul “Partisipasi Perguruang Tinggi dalam menyukseskan Vision 2020 dan Percepatan Pencapaian Millenium Development Goals (MDGs)”. Acara ini digelar di Auditorium Lt. 2 Gedung Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unpad-RSHS, Jumat (9/03).

Foto-foto oleh: Tedi Yusup (Humas Unpad)*

Lalu, bagaimana kesesuaian tujuan program Vision 2020 dengan MDGS? Gantira mengatakan bahwa terdapat tujuh dari delapan MDGs yang dapat diimplementasikan kedalam Vision 2020. Hal ini berarti bahwa dalam mencapai tujuan Vision 2020, pemerintah juta terbantu untuk mencapai tujuan MDGs.

Pria kelahiran Ciamis, 8 Maret 1942 ini mengungkapkan bahwa untuk menurunkan angka kebutaan, dapat dilakukan dengan melakukan operasi katarak dalam jumlah yang besar minimal melebihi insiden katarak, yakni 240 ribu per tahun.  Saat ini, jumlah operasi katarak hanya 100 ribu per tahun. Operasi katarak yang baik untuk menurunkan angka kebutaan adalah yang dapat dilakukan dengan jumlah besar, dengan kualitas yang tinggi, dan berkesinambungan, serta dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Gantira juga menuturkan bahwa perguruan tinggi dapat memiliki peran dalam menyukseskan Vision 2020 dan peningkatan pencapaian MDGs. Menurutnya, mahasiswa FK Unpad harus diberikan kesadaran bahwa kebutaan di Indonesia merupakan masalah yang besar. Mahasiswa FK harus menyadari bahwa angka kebutaan dapat diturunkan bila target Cataract Surgical Rate (CSR) di Indonesia ditingkatkan dari 468 operasi katarak per satu juta penduduk, ditingkatkan menjadi 2000 operasi katarak per satu juta penduduk per tahun. Dengan demikian. Maka jumlah operasi katarak di Indonesia harus ditingkatkan dari 100.000 per tahun, menjadi 480.000 per tahun, sehingga terdapat kenaikan 380.000 operasi katarak per tahun.

Meningkatkan kesadaran mahasiswa akan masalah tersebut, dapat dilakukan pada waktu mahasiswa FK Unpad melaksanakan pendidikannya. Diantaranya yaitu ketika melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM), mahasiswa melakukan kunjungan ke rumah-rumah sambil melakukan case finding penderita katarak, kemudian pada saat melakukan kepaniteraan di Departemen Ilmu Kesehatan Mata, mahasiswa dapat ikut melaksanakan skrining penderita katarak.

Selain itu, Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK Unpad juga harus menghasilkan dokter spesialis mata yang mahir dalam melakukan operasi katarak dengan kualitas yang tinggi dan dalam jumlah yang besar. Dokter spesialis mata yang dihasilkan FK Unpad harus memiliki kemampuan dalam bidang Oftalmologi Komunitas, sehingga akan lebih proaktif dan mampu melakukan manajemen penanggulangan kebutaan di wilayah kerjanya.

“Diharapkan para mahasiswa Fakultas Kedokteran apabila telah lulus menjadi dokter dan ditempatkan di Puskesmas telah mempunyai awareness  akan besarnya masalah kebutaan di Indonesia, dan bahwa penanggulangannya harus mulai dari Puskesmas lalu dilanjutkan ke RSUD kota atau kabupaten untuk dilakukan operasi katarak,” tutur Gantira. *

Laporan oleh: Artanti Hendriyana

Gimana kawan? Jadi ada yang minat untuk menjadi spesialis mata?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s