CAROTID, Sebuah Sarana Informasi Pengembangan Karir Kedokteran (2/3)

Oleh : Nur Afifah (mahasiswa FK Unpad angkatan 2010)

Dokter Penulis

 

Narasumber: dr. Genis Ginanjar Wahyu

 

 

“Dokter yang menekuni jurnalisitik kesehatan,” demikian deskripsi yang diberikan dr. Genis mengenai bidang profesi yang digelutinya saat ini. Dokter yang merupakan alumni FK Unpad angkatan 1998 ini telah menekuni dunia jurnalistik sejak memasuki semester dua pendidikan kedokteran.

 

Dr. Genis mengawali pembicaraanya dengan sebuah kisah. Pada masa kuliah, tatkala memasuki toko buku Gramedia, beliau sering mengamati penulis buku kesehatan yang dimuat di sana. Setelah ditelusuri secara seksama, ternyata sedikit sekali buku yang ditulis oleh alumni FK Unpad, hanya ada buku obstetrik, itupun edisi tahun 70-an. Sejak saat itu beliau bertekad, “Suatu saat, Bismillah, Gramedia akan memajang banyak buku dari alumni FK Unpad,” dan tentu saja hal itu hanya akan tercapai jika ada keseriusan. Hal itu dimulai dengan tulisannya yang dimuat di harian Republika. Sayangnya saat itu beliau mendapat one hit syndrome, terlampau merasa puas setelah satu karyanya dimuat.

 

Tetapi upaya itu Alhamdulillah tidak lantas berhenti. Pada tahun 2005, beliau mengumpulkan 14 orang mahasiswa yang memiliki keinginan dan kegigihan untuk menulis. “Kumpulin yuk semua mahasiswa kita, kita buat kelompok studi jurnalistik pesta gagasan. Target kita tidak sederhana, kita tembus harian Kompas bersama-sama,” ujar beliau saat itu. Di kelompok studi tersebut, setiap minggu mereka berlatih menulis, karena yang dibutuhkan adalah penulis-penulis yang terlatih. Setiap orang ditugaskan membawa satu karya mengenai suatu topik yang akan dibacakan dan dibahas bersama. Tulisan tersebut akan dievaluasi, kemudian dikelompokkan, “Ini cocok masuk ke harian mana, karena kita juga punya database mengenai kriteria bahasa dan topik yang sesuai dengan harian tersebut.”

 

Penulis bukan suatu profesi sampingan, karena kita menulis bukan untuk mencari fee. Idealisme kita terbangun dengan kuat di sana, karena kita ingin mengedukasi masyarakat tentang kesehatan. Beliau menyampaikan keprihatinannya mengenai tantangan yang dihadapi di dunia kesehatan saat ini. “Arus komunikasi dan informasi terbuka sedemikian luas, tetapi para dokter sendiri tidak rajin menerbitkan akses informasi yang baik.” Misalnya, salah satu stasiun TV pernah menyiarkan kasus antraks disebabkan oleh virus antraks, atau salah seorang pasien pernah datang dan menanyakan bakteri apa yang menyebabkan demam berdarah. Dari sini timbul keinginan, “Mengapa tidak dibuat saja sekalian stasiun TV-nya?”

 

Keinginan ini beliau sampaikan dalam sebuah target mendirikan stasiun TV kesehatan yang akan diberi nama Medical Channel. Orang akan mengakses informasi kesehatan selama 24 jam dalam ruangan yang sangat menarik, seperti berita kesehatan, meet the doctor, medical challenges, dan medical debates. Implikasi bagi pengembangan dunia kedokteran sendiri, misalnya, suatu saat fakultas kedokteran di universitas-universitas Indonesia akan sangat bersaing dalam hal riset, medical challenges akan memfasilitasi mereka menunjukkan teknik operasi mana yang terbaik.

 

Dua hal yang ingin beliau perjuangkan melalui jurnalistik saat ini terangkum dalam dua hal: memenuhi Gramedia dengan buku-buku karya alumni FK Unpad dan mendirikan Medical Channel. Peran seseorang sendiri dalam dunia jurnalistik kedokteran lebih ke passion yang ia miliki untuk menyampaikan apa yang ia ketahui. Kita berada di daerah dengan kesehatan yang buruk, dalam tanda kutip. Sehingga, terdapat banyak sekali masalah yang dapat dijadikan bahan tulisan. Misalnya, permasalahan kesehatan akibat sanitasi buruk yang sering muncul setelah musim hujan, atau mengenai kebijakan kesehatan yang tidak berpihak pada masyarakat. Kembali lagi pada idealisme untuk membangun masyarakat yang sehat.

 

Suka duka dalam dunia kepenulisan, tentu saja selalu berkaitan dengan keistiqomahan dalam menulis. Seorang penulis yang baik sebenarnya tidak pernah mengenal kata mentok, karena ia selalu berpikir karya apalagi yang dapat ia persembahkan melalui tulisan. Saat seseorang sudah terlatih, maka proses menulis itu akan terasa semakin akrab. Motivasi dr. Genis untuk terjun ke dunia jurnalisme kesehatan adalah keinginan beliau untuk mengisi ruang kosong dalam bidang prevensi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Melalui menulis, kita juga dapat berkomunikasi secara lugas dengan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s