CAROTID, Sebuah Sarana Informasi Pengembangan Karir Kedokteran (1/3)

Oleh : Nur Afifah (mahasiswa FK Unpad angkatan 2010)

 

Sabtu, 24 September 2011, Seksi Pendidikan dan Profesi Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran mengadakan sebuah acara bertajuk CAROTID, “Career Information for Medical Students and Doctors” di Gedung Eyckman, Bandung. Acara yang dihadiri oleh mahasiswa, koasistensi, dan lulusan dokter baru ini merupakan salah satu sarana yang diharapkan dapat memfasilitasi peserta untuk memperoleh informasi mengenai pengembangan karir seorang dokter.

 

Sebuah persembahan tari topeng dari Lestari Putri, seorang mahasiswi FK Unpad, mengawali acara dengan suasana ceria. Kemudian, berbagai sambutan positif disampaikan oleh perwakilan dari pihak dekanat, lulusan dokter baru, ketua Senat Mahasiswa FK Unpad, dan ketua panitia pelaksana acara pada sesi pembukaan. “Dunia  keprofesian selalu menjadi bahasan yang menarik, terlebih profesi seorang dokter. Profesi dokter sangat luas, lebih dari hanya menjadi seorang dokter spesialis. Dokter dapat menjadi apapun, tetapi tidak semua orang dapat menjadi dokter, dan karir kedokteran seharusnya tidak menghalangi seseorang mengejar passion yang ia miliki. Sebagaimana ungkapan dekan FK Unpad,       Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr., ‘Tujuan pendidikan FK Unpad adalah membentuk pluripotent stem cell yang dapat menjadi apa saja.’ “

 

Selain itu, setiap peralihan sesi yang diisi dengan pemberian doorprize dari PT Unilever melahirkan antusiasme di tengah-tengah peserta.

 

Acara talkshow dipandu dengan sangat menarik oleh dr. Intan Mauli, seorang dokter alumni FK Unpad angkatan 2004. Setiap sesi talkshow diawali dengan pemutaran video seputar pembicara dan profesi yang digelutinya. Berikut ulasan tiga informasi karir yang diangkat dalam CAROTID kali ini.

 

Dokter Kepolisian

 

Narasumber: dr. Farley H Arthur Tampi

 

 

“Saat seseorang menjadi dokter kepolisian, ia turut berperan dalam pilar penegakan hukum,” merupakan opini salah seorang mahasiswa FK Unpad yang membuat dr. Farley H Arthur Tampi tersenyum. Dokter Arthur, demikian beliau biasa disapa, merupakan alumni FK Unpad yang saat ini menjadi dokter kepolisian.

 

Dokter Arthur bergabung dengan Kepolisian Republik Indonesia melalui jalur wajib militer. Berbeda dengan saat ini, seseorang harus mendaftar melalui jalur yang telah ditentukan terlebih dahulu.  Ketika ditanyai mengenai gambaran dokter kepolisian, beliau menjawab dengan jenaka, “Ternyata dokter polisi asyik saja, tidak ada yang keluar atau mengundurkan diri hingga saat ini. Pengembangan karir juga cukup menjanjikan seperti dinas lain.”

 

Dokter yang bergabung dalam kepolisian terbagi dalam dua tugas pokok, yaitu kedokteran kepolisian dan kesehatan kepolisian. Kedokteran kepolisian mencakup beberapa hal, yaitu DVI, berkaitan dengan identifikasi korban bencana serta korban atau pelaku kejahatan; forensik, berkaitan dengan proses otopsi jenazah; kemudian ada yang berkaitan dengan operasi ketertiban masyarakat, misalnya membackup saat terjadi unjuk rasa atau menentukan apakah seseorang merupakan pengguna obat terlarang dalam suatu operasi malam di diskotik. Sedangkan kesehatan kepolisian—mencakup dokter-dokter yang bekerja di rumah sakit atau poliklinik—memiliki tugas dalam proses perekrutan, perawatan, dan pengakhiran dinas anggota kepolisian. Misalnya, menentukan apakah seseorang dapat diterima menjadi polisi atau siapa yang sudah perlu diberhentikan dari jabatan kepolisiannya. Dokter Arthur sendiri tergabung dalam dokter kepolisian.

 

Apel pagi dan apel siang merupakan rutinitas yang selalu dijalankan oleh dokter kepolisian. Hal ini menegaskan betapa seorang dokter harus memiliki sifat disiplin dalam dirinya, terlebih dokter kepolisian. Absensi kehadiran juga sudah menggunakan sistem sidik jari. Saat ini, mereka yang terlambat akan dikenakan remoderasi atau pemotongan gaji sesuai dengan rumusan ketentuan yang berlaku.

 

Salah satu bidang pengembangan yang sedang menjadi perhatian dokter kepolisian adalah sistem identifikasi identitas seseorang. Yang pertama adalah superimpuse, sistem ini dapat digunakan untuk memastikan apakah foto seseorang yang muncul di media informasi seperti telepon genggam sesuai dengan identitas orang yang dikaitkan dengannya. Kemudian odontogram, yaitu mencocokkan identitas seseorang dengan rekam bentuk gigi yang dimilikinya. Saat ini terdapat laboratorium klinik odontogram kepolisian di Mabes POLRI. Rencananya secara bertahap kepolisian akan mengumpulkan rekam odontogram setiap orang di sana, namun saat ini baru dilaksanakan pada masyarakat yang profesinya berisiko seperti pilot dan driver. Kemudian DVI (Disaster Victim Identification), saat ini merupakan icon yang akan dikembangkan dalam kedokteran kepolisian. Mengenai DVI ini sendiri, kita sudah dilibatkan sampai proses-proses ke luar negeri, seperti pada kasus kebakaran hutan di Australia beberapa waktu lalu. Artinya, kemampuan kita dalam proses identifikasi juga sudah diakui oleh pihak internasional.

 

Mengenai persyaratan yang harus dipenuhi dapat dilihat di situs kedokteran kepolisian (http://www.biddokpol.dokkes.polri.go.id/). Batasan mengenai tinggi badan misalnya, untuk pria minimal 163 cm dan wanita 160 cm. Peluang memasuki dokter kepolisian untuk pria dan wanita pada dasarnya sama. Dari 32 Polda, memang baru satu dokter polisi wanita yang ada, namun ini bukan karena adanya pembatasan, tapi karena pada umumnya saat seorang wanita menjadi ibu rumah tangga, ia harus ikut suami. Padahal konsekuensinya, pejabat struktural harus siap ditempatkan di mana saja. Selain itu, penempatan anggota juga harus mengikuti kebutuhan organisasi. Jika bagian ilmu penyakit dalam sudah memenuhi kebutuhan, maka kita tidak bisa memaksa untuk meminta bagian di sana, carilah bagian yang lain.

 

Motivasi menjadi dokter kepolisian di samping pengabdian adalah, kita memiliki peluang untuk dapat membuktikan pada organisasi kepolisian dan masyarakat bahwa peran kedokteran dalam proses identifikasi atau proses penegakan hukum sangat besar, dan bahwa kita bisa. Tanpa kehadiran kita, belum tentu suatu kasus bisa terungkap, meskipun tetap membutuhkan bidang-bidang lain juga. Banyak dokter-dokter yang kemudian juga dipercaya untuk menjadi pimpinan di tempatnya karena prestasi mereka.

 

Mengenai suka duka, hampir tidak ada dukanya. Apapun pekerjaannya, saat kita menikmatinya niscaya kita akan bahagia. Tantangan yang ada kita anggap sebagai peluang untuk mengabdi. Dokter kepolisian masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Contohnya di Jawa Barat, dari 31 poltes, baru ada 3 dokter polisi dan 2 PNS POLRI, yang lain masih dokter mitra, yaitu dokter Puskesmas atau Dinas Kesehatan yang hanya dua sampai tiga kali mengisi jadwal di polres. Artinya, masih sangat banyak diperlukan di sini. Terlebih di luar Jawa. Dokter polisi itu sangat luas bidangnya, chance pekerjaannya juga sangat besar.

One thought on “CAROTID, Sebuah Sarana Informasi Pengembangan Karir Kedokteran (1/3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s